6 Cara Komunikasi antara Orang Tua dan Anak

Komunikasi yang efektif selalu ditemukan dalam keluarga yang memiliki hubungan orangtua-anak yang kuat. Bahkan, hal ini sangat mempengaruhi kualitas kedekatan keluarga. Banyak penelitian yang menemukan bahwa kualitas komunikasi orangtua-anak mempengaruhi perkembangan mereka. Karena itu, orang tua perlu menumbuhkan sikap yang tepat dan mempelajari keterampilan komunikasi yang efektif untuk menguatkan hubungan antara orang tua dan anak.

Berikut ini adalah beberapa ide untuk berkomunikasi dengan anak-anak kita.

SA_lakilakiLuangkan Waktu Untuk Berbicara

Kadang-kadang orang tua begitu sibuk sehingga tidak dapat meluangkan waktu dengan anak-anak. Ingat, betapapun handalnya orang tua berkomunikasi, hal itu sulit diwujudkan tanpa memprioritaskan waktu bicara dengan anak-anak. Tapi, hal ini bisa diatasi dengan mencuri waktu untuk berkomunikasi. Anda bisa melakukannya saat mengemudi, melakukan tugas bersama-sama, sebelum tidur, atau waktu-waktu anda bersama dnegan mereka. Akan lebih baik jika anda membuat jadwal rutin sebagai “waktu bicara” dengan masing-masing anak, misalkan sebulan sekali. Dengan meluangkan waktu berdua, maka segala perasaan, kebutuhan, tujuan, kekhawatiran, dan pendapat mereka dapat diketahui dan dibicarakan bersama.

Melibatkan (Bukan Hanya Menyuruh) Mereka

Orang tua tentunya ingin anak-anak dapat bertanggung jawab serta mau bekerja sama. Namun, orang tua harus benar-benar mampu mengirimkan pesan tersebut. Hindari atau kurangi perintah bernada satu arah seperti komando militer. Contohnya seperti kalimat, “Gosok gigimu!”, “Duduk yang tegak!”, “Jangan bicara sambil makan!”.

Kalimat bernada negatif seperti “Kenapa selalu berantakan sih!” atau “Ibu lagi, ibu lagi ang mengerjakannya.”  juga sebaiknya segera ditinggalkan.  Mengapa? Karena anda akan membuat anak merasa tidak mampu, bodoh, atau buruk.  Cobalah menggunakan kata “tolong,” “terima kasih,” “maafkan Ibu (atau Ayah),” dan “terima kasih kembali.” Lalu, rangkai kata anda dengan kalimat ajakan, seperti “Ayo, bereskan kasur.”Kalimat-kalimat seperti ini akan lebih membekas secara positif dalam pembentukan karakternya.

Gunakan Kalimat Pendorong Berbuat Baik

Kalimat-kalimat komunikatif yang bernada hormat akan memiliki efek yang luar biasa terhadap rasa percaya diri anak. Lihatlah beberapa contoh di bawah ini:
“Kamu sekarang terampil sekali membereskan lemari, ya.”
“Terima kasih telah membantu adik membersihkan kamarnya.”
“Itu adalah ide yang bagus!”
“Kamu itu sangat  istimewa.”
“Ikut Ibu ke warung, yuk? Ibu senang sekali berjalan berdua dengan Kakak.”
“Senang deh dibantu anak baik seperti kamu.”

Gambarkan situasi ketika meminta kerjasamanya

Saat anda menginginkan si kecil membantu anda, kurangi kalimat yang bernada curiga atau menyalahkan. Untuk situasi dimana anak menyimpan gelas di meja tamu, dari pada mengatakan, “Siapa yang menaruhnya disini?”, anda bisa mengatakan “Wah, gelas ini bisa jatuh jika tersenggol, lho.” Selain membuat anak tidak merasa bersalah, anda akan membantunya mengembangkan kemampuan berbahasa.

Kurangi kata yang tidak perlu untuk memintanya bertanggung jawab

Semakin sedikit kata yang anda gunakan bisa menjadi semakin baik. Kurangi kebiasaan merangkai kalimat panjang untuk memintanya bekerja sama, seperti, “Tuh kan, coba Ibu tidak membelikan mainan baru, pasti tidak berantakan. Bereskan dong. Ibu sudah bilang berapa kali, sih.”

Sekarang sudah saatnya anda langsung menunjuk objeknya untuk diatasi. Contohnya, dengan hanya mengatakan, “Dina, mainanmu nih.” – ketika kamar mainannya berantakan.

Libatkan perasaan anda dalam komunikasi

Bicarakanlah apa yang anda rasakan ketika melihat sesuatu yang tidak anda sukai. Contohnya, daripada berkata “Pasti deh, Dina yang lupa tutup pintunya,” – anda bisa  bisa mengatakan “Dina, Ibu kok agak takut banyak nyamuk ya kalau pintunya dibiarkan terbuka begitu.” Hal ini akan melatih empati anak dan membuat mereka percaya diri karena telah membantu anda. Namun, meski ini efektif, anda perlu berhati-hati melakukannya. Pastikan bahwa pesan yang sampai adalah perilaku mereka yang tidak dapat diterima bukan si anak yang membuat anda tidak nyaman.

Jangan Berkomunikasi Di Saat Marah

Kadang-kadang perasaan negatif begitu kuat sehingga menjadi sangat sulit untuk berkomunikasi dengan efektif. Karena itu, jika anda sangat marah, berhenti berbicara selama beberapa menit. Hal ini sangatlah penting karena amarah sesaat dapat merusak hubungan yang terbangun. Anda juga dapat melakukan hal yang anda sukai untuk meredakan amarah, seperti menghitung sampai sepuluh, berjalan, tidur, membaca, bermain badminton, atau menulis. Apapun itu, intinya adalah, berkomunikasilah pada saat yang tepat.

(Visited 3,937 times, 1 visits today)